sebagai wadah para penyuluh perikanan mencari informasi terbaru untuk para petani dan nelayan...
Selasa, 28 Desember 2010
Sabtu, 18 Desember 2010
Pengertian Penyuluhan Pertanian
Penyuluhan dalam arti umum merupakan suatu ilmu sosial yang mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu dan masyarakat agar dengan terwujudnya perubahan tersebut dapat tercapai apa yang diharapkan sesuai dengan pola atau rencananya. Penyuluhan dengan demikian merupakan suatu sistem pendidikan yang bersifat non formal atau suatu sistem pendidikan diluar sistem persekolahan yang biasa, dimana orang ditunjukkan cara-cara mencapai sesuatu dengan memuaskan sambil orang itu tetap mengerjakannya sendiri, jadi belajar dengan mengerjakan sendiri (Kartasapoetra, 1991).
Metode penyuluhan menurut hubungan penyuluhan dan sasarannya berdasarkan hubungan penyuluhan kesasarannya, metode penyuluhan dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
a. Komunikasi langsung, baik melalui percakapan tatap muka atau lewat media tertentu (telepon, faksimili) yang memungkinkan penyuluhan dapat berkomunikasi secara langsung (memperoleh respons) dari sasarannya dalam waktu yang relatif singkat.
b. Komunikasi tak langsung, baik lewat perantara orang lain, lewat surat atau media yang lain yang tidak memungkinkan penyuluh dapat menerima respon dari sasarannya dalam waktu yang relatif singkat (Mardikanto, 1994).
Berbagai pengamatan menunjukkan bahwa penyuluhan baik Penyuluhan Pertanian Spesialis (PPS) maupun Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) belum mendapatkan informasi hasil penelitian yang mereka perlukan secara kesinambungan. PPS yang sebagian dari tugasnya diharuskan untuk melatih PPL secara teratur merasakan kurangnya informasi hasil penelitian untuk mendukung kegiatan itu yang akhirnya berlanjut kepada kurang efektifnya latihan dan kunjungan PPL ke petani. Penelitian sering pula dinilai kurang efektif karena tidak langsung berkaitan dengan masalah lapangan yang dihadapi oleh petani dan penyuluh. Peneliti kurang menerima umpan balik yang mereka perlukan untuk menyusun program penelitian, kondisi ini secara jelas memperlihatkan belum memadainya keterkaitan antara penelitian dan penyuluhan (Anonim, 1992).
Didalam kenyataannya, kualifikasi penyuluhan tidak cukup hanya dengan memenuhi persyaratan keterampilan sikap dan pengetahuan saja, tetapi keadaan atau latar belakang sosial budaya, bahasa, agama, kebiasaan-kebiasaan. Seringkali justru lebih banyak menentukan keberhasilan penyuluhan yang dilakukan. Karena itu penyuluhan yang baik, sejauh mungkin harus memiliki latar belakang sosial budaya yang sesuai dengan keadaan seorang penyuluh akan bertugas di wilayah kerja yang memiliki kesenjangan sosial budaya yang telah dimilikinya (Mardikanto, 1994).
Ragam materi yang perlu disiapkan dalam setiap kegiatan penyuluhan mencakup :
1. Kebijakan dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan pertanian (baik dari tingkat pusat maupun sampai di tingkat lokalitis), seperti pola kebijakan umum pembangunan pertanian, kebijakan harga dasar atau penyaluran kredit.
2. Hasil-hasil penelitian atau pengujian dan rekomendasi teknis yang dikeluarkan untuk instansi yang berwenang.
3. Pengalaman petani yang telah berhasil.
4. Informasi pasar seperti harga barang, penawaran dan permintaan
(Mardikanto, 1994).
Dalam bahasa Belanda digunakan kata “voorlichting“ yang berarti memberi penerangan untuk menolong seseorang menemukan jalannya. Istilah ini digunakan pada masa kolonial bagi negara-negara jajahan Belanda, walaupun sebenarnya penyuluhan diperlukan oleh kedua pihak. Indonesia misalnya, mengikuti cara Belanda menggunakan kata penyuluhan, sedangkan Malaysia yang dipengaruhi bahasa Inggris menggunakan kata perkembangan. Bahasa Inggris dan Jerman masing-masing mengistilahkan sebagai pemberian saran atau beratung yang berarti seorang pakar dapat memberikan petunjuk kepada seseorang tersebut yang berhak untuk menentukan pilihannya (Van den Ban dan Hawkins, 1999).
Kegiatan penyuluhan sebenarnya bukanlah sekedar penyampaian informasi dan menerangkan segala sesuatu yang perlu kita terangkan kepada masyarakat, akan tetapi penyuluhan bertujuan agar masyarakat benar-benar memahami, menghayati dan atas kesadarannya sendiri mau menerima, menerapkan dan melaksanakan sesuatu yang terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan pribadi, keluarga, dan masyarakatnya serta kemajuan bangsa dan negara. Dapat dikatakan, penyuluhan bukanlah kegiatan pengubahan perilaku melalui pemaksaan atau ancaman-ancaman, tetapi penyuluhan adalah upaya pengubahan perilaku melalui proses pendidikan, sehingga kegiatan penyuluhan sungguh tidak gampang, tetapi memerlukan ketekunan, kesabaran, menuntut banyak waktu, tenaga, biaya dan merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan (Anonim, 1991).
Pada unit yang paling kecil di daerah pedesaan, pendekatan berdasarkan kelembagaan dalam proses adopsi inovasi adalah melalui lembaga yang disebut dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Di BPP ini ada sejumlah penyuluh pertanian, mereka merencanakan dan membuat programa penyuluhan, kemudian dituangkan dalam praktek, misalnya melalui Demonstrasi Plot (Demoplot), Demonstrasi Farm (Demfarm), Demonstrasi Area (Demarea), atau melalui cara lain. Selanjutnya oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan pembantu-pembantunya ditingkat desa, yaitu para kelompok tani, maka informasi tersebut diteruskan kepara petani, apakah melalui cara kunjungan, rapat atau lainnya (Soekartawi, 1992).
Dalam prakteknya penempatan penyuluh dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Penyuluh lapangan yaitu seorang penyuluh ditempatkan di Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP).
2. Penyuluh tingkat kecamatan yang ditempatkan di Balai Penyluhan Pertanian (BPP).
3. Penyuluh tingkat kabupaten yang ditempatkan di Dinas Lingkup Pertanian Dati II.
4. Penyuluh tingkat provinsi yang ditempatkan di Dinas Lingkup Pertanian Dati I maupun Balai Informasi Pertanian.
5. Penyuluh tingkat nasional yang ditempatkan di Badan Pengendalian Bimas
(Suhardiyono, 1992).
Metode penyuluhan menurut hubungan penyuluhan dan sasarannya berdasarkan hubungan penyuluhan kesasarannya, metode penyuluhan dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
a. Komunikasi langsung, baik melalui percakapan tatap muka atau lewat media tertentu (telepon, faksimili) yang memungkinkan penyuluhan dapat berkomunikasi secara langsung (memperoleh respons) dari sasarannya dalam waktu yang relatif singkat.
b. Komunikasi tak langsung, baik lewat perantara orang lain, lewat surat atau media yang lain yang tidak memungkinkan penyuluh dapat menerima respon dari sasarannya dalam waktu yang relatif singkat (Mardikanto, 1994).
Berbagai pengamatan menunjukkan bahwa penyuluhan baik Penyuluhan Pertanian Spesialis (PPS) maupun Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) belum mendapatkan informasi hasil penelitian yang mereka perlukan secara kesinambungan. PPS yang sebagian dari tugasnya diharuskan untuk melatih PPL secara teratur merasakan kurangnya informasi hasil penelitian untuk mendukung kegiatan itu yang akhirnya berlanjut kepada kurang efektifnya latihan dan kunjungan PPL ke petani. Penelitian sering pula dinilai kurang efektif karena tidak langsung berkaitan dengan masalah lapangan yang dihadapi oleh petani dan penyuluh. Peneliti kurang menerima umpan balik yang mereka perlukan untuk menyusun program penelitian, kondisi ini secara jelas memperlihatkan belum memadainya keterkaitan antara penelitian dan penyuluhan (Anonim, 1992).
Didalam kenyataannya, kualifikasi penyuluhan tidak cukup hanya dengan memenuhi persyaratan keterampilan sikap dan pengetahuan saja, tetapi keadaan atau latar belakang sosial budaya, bahasa, agama, kebiasaan-kebiasaan. Seringkali justru lebih banyak menentukan keberhasilan penyuluhan yang dilakukan. Karena itu penyuluhan yang baik, sejauh mungkin harus memiliki latar belakang sosial budaya yang sesuai dengan keadaan seorang penyuluh akan bertugas di wilayah kerja yang memiliki kesenjangan sosial budaya yang telah dimilikinya (Mardikanto, 1994).
Ragam materi yang perlu disiapkan dalam setiap kegiatan penyuluhan mencakup :
1. Kebijakan dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan pertanian (baik dari tingkat pusat maupun sampai di tingkat lokalitis), seperti pola kebijakan umum pembangunan pertanian, kebijakan harga dasar atau penyaluran kredit.
2. Hasil-hasil penelitian atau pengujian dan rekomendasi teknis yang dikeluarkan untuk instansi yang berwenang.
3. Pengalaman petani yang telah berhasil.
4. Informasi pasar seperti harga barang, penawaran dan permintaan
(Mardikanto, 1994).
Dalam bahasa Belanda digunakan kata “voorlichting“ yang berarti memberi penerangan untuk menolong seseorang menemukan jalannya. Istilah ini digunakan pada masa kolonial bagi negara-negara jajahan Belanda, walaupun sebenarnya penyuluhan diperlukan oleh kedua pihak. Indonesia misalnya, mengikuti cara Belanda menggunakan kata penyuluhan, sedangkan Malaysia yang dipengaruhi bahasa Inggris menggunakan kata perkembangan. Bahasa Inggris dan Jerman masing-masing mengistilahkan sebagai pemberian saran atau beratung yang berarti seorang pakar dapat memberikan petunjuk kepada seseorang tersebut yang berhak untuk menentukan pilihannya (Van den Ban dan Hawkins, 1999).
Kegiatan penyuluhan sebenarnya bukanlah sekedar penyampaian informasi dan menerangkan segala sesuatu yang perlu kita terangkan kepada masyarakat, akan tetapi penyuluhan bertujuan agar masyarakat benar-benar memahami, menghayati dan atas kesadarannya sendiri mau menerima, menerapkan dan melaksanakan sesuatu yang terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan pribadi, keluarga, dan masyarakatnya serta kemajuan bangsa dan negara. Dapat dikatakan, penyuluhan bukanlah kegiatan pengubahan perilaku melalui pemaksaan atau ancaman-ancaman, tetapi penyuluhan adalah upaya pengubahan perilaku melalui proses pendidikan, sehingga kegiatan penyuluhan sungguh tidak gampang, tetapi memerlukan ketekunan, kesabaran, menuntut banyak waktu, tenaga, biaya dan merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan (Anonim, 1991).
Pada unit yang paling kecil di daerah pedesaan, pendekatan berdasarkan kelembagaan dalam proses adopsi inovasi adalah melalui lembaga yang disebut dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Di BPP ini ada sejumlah penyuluh pertanian, mereka merencanakan dan membuat programa penyuluhan, kemudian dituangkan dalam praktek, misalnya melalui Demonstrasi Plot (Demoplot), Demonstrasi Farm (Demfarm), Demonstrasi Area (Demarea), atau melalui cara lain. Selanjutnya oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan pembantu-pembantunya ditingkat desa, yaitu para kelompok tani, maka informasi tersebut diteruskan kepara petani, apakah melalui cara kunjungan, rapat atau lainnya (Soekartawi, 1992).
Dalam prakteknya penempatan penyuluh dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Penyuluh lapangan yaitu seorang penyuluh ditempatkan di Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP).
2. Penyuluh tingkat kecamatan yang ditempatkan di Balai Penyluhan Pertanian (BPP).
3. Penyuluh tingkat kabupaten yang ditempatkan di Dinas Lingkup Pertanian Dati II.
4. Penyuluh tingkat provinsi yang ditempatkan di Dinas Lingkup Pertanian Dati I maupun Balai Informasi Pertanian.
5. Penyuluh tingkat nasional yang ditempatkan di Badan Pengendalian Bimas
(Suhardiyono, 1992).
Salah satu unsur utama yang menyebabkan kurangnya partisipasi masyarakat adalah lemahnya komunikasi antara penyuluh dengan masyarakatnya, karena kurang adanya kontak pribadi yang disebabkan oleh :
1. Bentuk komunikasi yang paling efektif adalah tatap muka.
2. Kebutuhan serta kemampuan masyarakat bawah umumnya bersifat situasional dan bersifat individual (orang per orang).
3. Semua kegiatan dan bantuan, cenderung diawasi oleh pemerintah atau penyedia sumber dana yang sering membatasi ruang gerak dan kelincahan penyuluh
(Mardikanto, 1991).
Sistem penyuluhan akan sangat tidak efektif bila terdapat kekurangan-kekurangan teknis seperti kurangnya informasi, dan teknologi yang memadai yang bisa disampaikan ke petani. Selain itu adanya kekurangan staf dan model penyuluhan menyangkut penyebaran informasi dan teknik penyampaian adalah contoh dari faktor penghambat kelancaran penyuluhan (Bayer et al, 1999).
1. Bentuk komunikasi yang paling efektif adalah tatap muka.
2. Kebutuhan serta kemampuan masyarakat bawah umumnya bersifat situasional dan bersifat individual (orang per orang).
3. Semua kegiatan dan bantuan, cenderung diawasi oleh pemerintah atau penyedia sumber dana yang sering membatasi ruang gerak dan kelincahan penyuluh
(Mardikanto, 1991).
Sistem penyuluhan akan sangat tidak efektif bila terdapat kekurangan-kekurangan teknis seperti kurangnya informasi, dan teknologi yang memadai yang bisa disampaikan ke petani. Selain itu adanya kekurangan staf dan model penyuluhan menyangkut penyebaran informasi dan teknik penyampaian adalah contoh dari faktor penghambat kelancaran penyuluhan (Bayer et al, 1999).
Pustaka (source/References) :
Anonim. 1992. 5 Tahun Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Gaya Teknik Offset. Bogor.
Anonim. 1991. Seminar dan Lokakarya Penyuluhan Pertanian. LP3M. Sukoharjo.
Bayer, et al. 1999. Pertanian Masa Depan. Kanisius. Bandung.
Kartasapoetra, A.G. 1991. Teknologi Penyuluhan Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.
Mardikanto, Totok. 1994. Persiapan dan Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Surakarta.
Mardikanto, Totok. 1994. Dasar-dasar Teori Penyuluhan Pertanian. UNS Press. Surakarta.
Mardikanto, Totok. 1994. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. UNS Press. Surakarta.
Mardikanto, Totok. 1991. Komunikasi Pembangunan. UNS Press. Surakarta.
Soekartawi. 1992. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. UI Press. Jakarta.
Soehardiyono, L. 1992. Penyuluhan Petunjuk bagi Penyuluh Pertanian. Erlangga. Jakarta.
Van den Ban, A.W dan Hawkins, H.S. 1999. Penyuluhan Pertanian. Kanisius.
Anonim. 1992. 5 Tahun Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Gaya Teknik Offset. Bogor.
Anonim. 1991. Seminar dan Lokakarya Penyuluhan Pertanian. LP3M. Sukoharjo.
Bayer, et al. 1999. Pertanian Masa Depan. Kanisius. Bandung.
Kartasapoetra, A.G. 1991. Teknologi Penyuluhan Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.
Mardikanto, Totok. 1994. Persiapan dan Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Surakarta.
Mardikanto, Totok. 1994. Dasar-dasar Teori Penyuluhan Pertanian. UNS Press. Surakarta.
Mardikanto, Totok. 1994. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. UNS Press. Surakarta.
Mardikanto, Totok. 1991. Komunikasi Pembangunan. UNS Press. Surakarta.
Soekartawi. 1992. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. UI Press. Jakarta.
Soehardiyono, L. 1992. Penyuluhan Petunjuk bagi Penyuluh Pertanian. Erlangga. Jakarta.
Van den Ban, A.W dan Hawkins, H.S. 1999. Penyuluhan Pertanian. Kanisius.
Minggu, 12 Desember 2010
Teknik Pembuatan Puding Rumput Laut
Cara membuat puding rumput laut yaitu dengan merendam rumput laut kering yang telah dipotong-potong. Kemudian direbus dengan susu, gula, air, vanila dan pasta sampai mendidih kemudian tuangkan dalam cetakan.
Alat-alat yang dibutuhkan antara lain :
- Kompor
- Panci
- Pisau
- Loyang
Bahan-bahan yang digunakan
- Rumput laut 50 g
- Air
- Gula pasir 200 g
- Susu kentai manis 1 kaleng
- Garam
- Essence 1 g
- Pewarna 1 g
Cara pembuatan puding rumput laut :
- Rumput laut kering dipotong-potong lalu dicuci sampai bersih dan kemudian direndam selama 1 malam
- Rumput laut yang telah direndam kemudian direbus dalam air dan susu dengan perbandingan minimal 250 ml susu untuk 1 kg rumput laut
- Ditambahkan sedikit gula, essence, garam, dan pewama
- Setelah mendidih, segera di angkat dan dituangkan kedalam loyang cetakan
- Didinginkan di dalam lemari es.
- Selanjutnya siap untuk dikonsumsi

Selasa, 02 November 2010
Pengelolaan Cupang Aduan
nah para pecandu cupang adu ada masukan nih buat kalian...!
untuk melatih cupang aduan supaya kuat, ganas dan sangar serta ditakuti oleh cupang aduan lain, maka cupang harus dilatih supaya kuat dan mentalnya ngak down pada saat diadu, klo mau tau cara ngelatihnya coba perhatikan hal berikut ini:
- Cupang aduan sebelum bertarung juga perlu di latih. untuk mempermatang mental biasanya para pemain melatih cupang aduannya dengan cara meletakkan cupang pada wadah yang berisi air sangat sedikit sehingga ikan berusaha untuk melompat atau untuk mempertahankan hidup. kegiatan itu dilakukan tidak perlu terlalu sering. Cukup 1-2 kali saja seminggu sebelum pertarungan. Jika terlalu sering juga kurang baik, karena akan menyebabkan menurunnya kondisi kesehatan ikan.
- Untuk Melatih Kekuatan pukulan cupang aduan biasanya para pemain setiap pagi dan sore meletakkan cupangnya pada wadah yang bulat,seperti ember,baskom,atau wadah-wadah yang lainnya. setelah cupang aduan diletakkan, mulailah memutar air di sekeliling wadah sampai terbentuk sebuah pusaran. kalau ikan bisa melawan arus, ikan itu sudah cukup memiliki kekuatan untuk memukul lawannya dengan keras, tapi kegiatan itu harus tetap dilakukan agar ikan semakin kuat pukulannya. tapi kegiatan itu harus dihentikan ketika 2 hari menjelang pertarungan. kegunaan dari memutar air adalah untuk melatih otot ekor supaya kuat untuk mengibas, sehingga dorongan tubuh sangat kuat.
- Biasanya klo cupang selesai fighting, dikasi obat u/ikan yg ada antijamurnya, krn sisik yg terkelupas, sirip koyak rawan terserang jamur.Untuk lebih jelasnya bisa kmu baca pada kemasan obatny
Rabu, 27 Oktober 2010
Bimtek Pengedalian Kebakaran Lahan dan Hutan Di Kecamatan Duampanua Kab. Pinrang
Nah para teman teman penyuluh dan mitra petani ada kabar nih, pada hari senin dan selasa yang lalu tepatnya pada tanggal 25 dan 26 bulan Oktober Tahun 2010 ini, telah diadakan pelatihan bagi para petani yang tinggal di sekitar lokasi hutan, yang diselenggarakan oleh BP4K (Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan) dan Dinas Kehutanan Kabupaten Pinrang. Acara ini di buka oleh kepala BP4K yang di wakili oleh KABID Perikanan dan Kehutan. Tempat pelaksanaan Bimtek ini bertempat di kantor desa Massewae.
Para petani yang menjadi peserta dalam pelatihan ini adalah, petani yang bertempat tinggal di Desa Massawae Kecamatan Duampanua Kabupaten Pinrang Propinsi Sulawesi Selatan. Selain itu juga, petani peserta di dampingi oleh penyuluh pertanian yang bertugas di Kecamatan Duampanua. Adapun kegiatan yang di laksanakan selama dua hari pelatihan ini adalah pada hari pertama, diisi dengan pemberian pembekalan dan materi tentang kebakaran hutan oleh penyuluh kehutanan yang antara lain materinya adalah sebagai berikut
1. Akibat Kerusakan Lahan dan Hutan2. Teknik Pemadaman Kebakaran Hutan
3. Hutan dan Manfaatnya Bagi Manusia
Kegiatan hari kedua yaitu praktek lapangan, penanganan kebakaran hutan. Kegiatan praktek penangangan kebakaran lahan dan hutan di bimbing, dan di kawal oleh para petugas polisi kehutanan dari DAOPS GOWA, sebelum memulai kegiatan, para peserta di beri pembekalan untuk mengenal, dan cara memakai peralatan yang akan di pakai untuk memadamkan api, oleh para instruktur DAOPS GOWA untuk lebih jelasnya lihat aja foto foto kegiatan sebagai berikut:
Gambar 1 mobil ini yang di gunakan untuk memadamkan api di dalam hutanGambar 2. peralatan yang digunakan untuk memadamkan api di lahan dan hutan
gambar 3. para penyuluh kehutanan dan instrukrur DAOPS GOWA
Gambar 4.Insrtrukstur DAOPS GOWA memberikan pengarahan dan petunjuk pemakaian alat para peserta
Kegiatan Bimtek Pengendalian Kebakaran Lahan dan Hutan Di Kecamatan Duampanua Kabupaten Pinrang, sangat di perlukan oleh para petani yang berdomisili dan memanfaatkan potensi hutan mengingat hutan merupakan aset bagi negara dan bangsa kita yang digunakan semaksimalnya untuk kemakmuran rakyat, oleh karena itu menjaga hutan merupakan suatu kewajiban kita bersama.
Kamis, 21 Oktober 2010
Cara membuat Effective Microorganism Super
Komposisi:
- 3 kg bekatul (Dedak)
- 2 kg gula pasir
- 10 liter air matang dingin/isi ulang
- 1 liter EM4 (botol kuning)
Cara Pembuatan:
- Gula pasir di encerkan dgn air panas lalu dinginkan
- Semua bahan di masukan ke dalam tong yg bisa di tutup rapat (jika kurang rapat bisa di bantu dgn plastik)
- tutup rapat hingga 4 hari
- hari ke 5 di buka (di aduk rata)
- selanjut tutup biasa aja (jangan terlalu rapat)
- hari ke 10 buka tutupnya (di aduk seperti hari ke 5)
- tutup lagi tapi tdk rapat
- Hari ke 15 bisa di panen, ambil bagian yg bening saja (simpan dalam jerigen)
- sisakan 1-2 liter (Jangan di panen semua)
- Encerkan gula 2 kg dan campur dgn air isi ulang, masukan lagi ke adonan bekatul sisa panen
- Tutup rapat (ulangi seperti proses awal), bisa dipanen 4-5 kali
Cara Pemakaian:
- Siramkan hasil air panen dari ujung daun sampai akar
- Terapkan tiap 2 minggu sekali
Manfaat:
- Menyuburkan tanaman dan memperbesar akar alias bonggol
catatan :
untuk komposisi bisa juga di tambah
- Nanas 1 buah
- Terasi ½ kg
klo bahan tersebut ngak ada yang ngak pa2, tapi klo ada harus di campur, karena bahan tersebut berfungsi untuk makanan mikroorganisme bakteri juga mempercepat proses perkembang biakan mikrooerganisme tersebut.
- 3 kg bekatul (Dedak)
- 2 kg gula pasir
- 10 liter air matang dingin/isi ulang
- 1 liter EM4 (botol kuning)
Cara Pembuatan:
- Gula pasir di encerkan dgn air panas lalu dinginkan
- Semua bahan di masukan ke dalam tong yg bisa di tutup rapat (jika kurang rapat bisa di bantu dgn plastik)
- tutup rapat hingga 4 hari
- hari ke 5 di buka (di aduk rata)
- selanjut tutup biasa aja (jangan terlalu rapat)
- hari ke 10 buka tutupnya (di aduk seperti hari ke 5)
- tutup lagi tapi tdk rapat
- Hari ke 15 bisa di panen, ambil bagian yg bening saja (simpan dalam jerigen)
- sisakan 1-2 liter (Jangan di panen semua)
- Encerkan gula 2 kg dan campur dgn air isi ulang, masukan lagi ke adonan bekatul sisa panen
- Tutup rapat (ulangi seperti proses awal), bisa dipanen 4-5 kali
Cara Pemakaian:
- Siramkan hasil air panen dari ujung daun sampai akar
- Terapkan tiap 2 minggu sekali
Manfaat:
- Menyuburkan tanaman dan memperbesar akar alias bonggol
catatan :
untuk komposisi bisa juga di tambah
- Nanas 1 buah
- Terasi ½ kg
klo bahan tersebut ngak ada yang ngak pa2, tapi klo ada harus di campur, karena bahan tersebut berfungsi untuk makanan mikroorganisme bakteri juga mempercepat proses perkembang biakan mikrooerganisme tersebut.
Kamis, 07 Oktober 2010
Teknologi Pemeliharaan Bandeng
20/05/2008 - Kategori : Teknologi
Teknologi Pemeliharaan Bandeng
TEKNOLOGI PEMELIHARAAN BANDENG TAMBAK RAKYAT
Petunjuk teknis pemeliharaan bandeng di tambak rakyat ini telah diterapkan di Kampung Laut Kabupaten Cilacap dan pesisir
Kabupaten Purworejo yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah. Kegiatan budidaya ini dilakukan
untuk memanfaatkan kotoran ayam atau pupuk kandang lainnya untuk penumbuhan klekap sebagai pakan alami bandeng.
Adapun tahapan yang perlu dilaksanakan ialah :
a. Pembuatan Konstruksi Tambak
Pematang: harus kuat, tinggi 0,5 m di atas pasang air laut tertinggi, lebar atas sekitar 1 m dan tidak bocor.
Dasar tambak: rata, dan agak miring ke arah pintu air.
Pintu air: kuat dan tidak bocor, diutamakan petakan tambak yang memiliki pintu pemasukan dan pengeluaran air
terpisah.
Pembuatan caren keliling atau diagonal/menyilang dengan lebar 2-4 m, dan dalam 50-60 cm.
b. Persiapan Budidaya
1. Pengeringan tanah dasar tambak
Perbaikan pematang, saluran, dan pintu saluran keluar masuk tambak.
Pembasmian hama dan penyakit dengan pemberian Saponin 50 kg/ha, lalu pengapuran dengan dosis 500 kg/ha
untuk meningkatkan pH tanah, sekaligus berfungsi sebagai pengendalian hama dan penyakit.
Tanah dasar pelataran diolah dan diratakan, kemudian dikeringkan selama 14 hari (hingga tanah dasar retak-retak
sedalam 1 cm).
2. Pemupukan awal
Untuk mempercepat pertumbuhan pakan alami, yaitu kelekap, dilakukan pemupukan dengan kotoran ayam sekitar
1 ton/ha. Pupuk tersebut ditebarkan merata pada pelataran tambak.
Pemupukan dengan Urea 50 kg/ha dan SP-36 75 kg/ha pada pelataran tambak secara merata.
Pengairan tambak macak-macak (sekitar 5 cm), dan dibiarkan selama 1 minggu. Pada saat pengairan tambak,
pintu tambak dipasang saringan berupa waring untuk mencegah masuknya predator dan kompetitor dan segera
ditutup sebelum air surut agar pupuk tidak hanyut ke luar tambak.
Penambahan air secara bertahap, hari ke-1 setinggi 10 cm, hari ke-2 setingggi 20 cm, hari ketiga 30 - 40 cm, dan
dibiarkan selama 1 minggu sampai kelekap tumbuh subur.
Selanjutnya air ditambah lagi hingga 40 - 50 cm dan tambak siap ditebari benih ikan bandeng.
3. Penebaran Benih Ikan
Benih yang ditebar ukuran "lincip" ( 5 cm)
Padat penebaran yang digunakan sekitar 10.000 ekor/ha.
Penebaran benih dilakukan pada saat suhu rendah
Untuk menjaga benih agar tidak stress, perlu perlakuan aklimatisasi terhadap kondisi suhu dan salinitas air
tambak. Tahapan pelaksanaannya :
(i) memasukkan kantong berisi benih ikan ke dalam tambak dan biarkan selama 10 - 15 menit, (ii)
membuka kantong plastik, dan memasukkan air tambak ke dalamnya sedikit-demi sedikit sampai suhu
dan salinitas air dalam kantong plastik sama dengan air tambak, (iii) melepaskan benih perlahan-lahan
ke tambak dengan cara mengangkat kantong bagian bawah.
4. Pemeliharaan
i. Pengelolaan air
Kedalaman air dipertahankan sekitar 30-40 cm di atas pelataran.
Penggantian air dilakukan secara gravitasi (pasang surut air laut).
ii. Pemupukan susulan
Pemupukan susulan mulai dilakukan pada saat persediaan dan pertumbuhan kelekap berkurang
(sekitar 1 bulan setelah penebaran).
Pemupukan dilakukan dengan Urea sekitar 15 kg/ha dan SP-36 10 kg/ha (sekitar 10% dari pupuk
awal). Mula-mula air tambak disurutkan hingga sekitar 5 cm di pelataran, selanjutnya pupuk
ditebarkan merata di pelataran tambak. Dua hari kemudian air tambak ditambah hingga kedalaman
sekitar 40 - 50 cm.
iii. Pakan tambahan
Pakan tambahan diberikan pada saat menjelang panen untuk memacu laju pertumbuhan berat.
iv. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian dini dilakukan bersamaan dengan persiapan tambak (pengeringan, pengapuran, dan
pemberian saponin). Selain itu pemasangan saringan pada pintu air tambak sangat berguna
mencegah masuknya predator atau penyaing ikan bandeng ke dalam tambak.
Pengendalian selanjutannya dilakukan dengan monitoring terhadap gangguan ular, kepiting, dan
jenis ikan lain sebagai penyaing.
5. Panen
Lama pemeliharaan sekitar 4-5 bulan.
Tujuan pemeliharaan untuk mendapatkan ikan bandeng konsumsi (4-5 ekor/kg).
Panen dilakukan dengan menggunakan alat jaring/waring.
Teknologi Pemeliharaan Bandeng
TEKNOLOGI PEMELIHARAAN BANDENG TAMBAK RAKYAT
Petunjuk teknis pemeliharaan bandeng di tambak rakyat ini telah diterapkan di Kampung Laut Kabupaten Cilacap dan pesisir
Kabupaten Purworejo yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah. Kegiatan budidaya ini dilakukan
untuk memanfaatkan kotoran ayam atau pupuk kandang lainnya untuk penumbuhan klekap sebagai pakan alami bandeng.
Adapun tahapan yang perlu dilaksanakan ialah :
a. Pembuatan Konstruksi Tambak
Pematang: harus kuat, tinggi 0,5 m di atas pasang air laut tertinggi, lebar atas sekitar 1 m dan tidak bocor.
Dasar tambak: rata, dan agak miring ke arah pintu air.
Pintu air: kuat dan tidak bocor, diutamakan petakan tambak yang memiliki pintu pemasukan dan pengeluaran air
terpisah.
Pembuatan caren keliling atau diagonal/menyilang dengan lebar 2-4 m, dan dalam 50-60 cm.
b. Persiapan Budidaya
1. Pengeringan tanah dasar tambak
Perbaikan pematang, saluran, dan pintu saluran keluar masuk tambak.
Pembasmian hama dan penyakit dengan pemberian Saponin 50 kg/ha, lalu pengapuran dengan dosis 500 kg/ha
untuk meningkatkan pH tanah, sekaligus berfungsi sebagai pengendalian hama dan penyakit.
Tanah dasar pelataran diolah dan diratakan, kemudian dikeringkan selama 14 hari (hingga tanah dasar retak-retak
sedalam 1 cm).
2. Pemupukan awal
Untuk mempercepat pertumbuhan pakan alami, yaitu kelekap, dilakukan pemupukan dengan kotoran ayam sekitar
1 ton/ha. Pupuk tersebut ditebarkan merata pada pelataran tambak.
Pemupukan dengan Urea 50 kg/ha dan SP-36 75 kg/ha pada pelataran tambak secara merata.
Pengairan tambak macak-macak (sekitar 5 cm), dan dibiarkan selama 1 minggu. Pada saat pengairan tambak,
pintu tambak dipasang saringan berupa waring untuk mencegah masuknya predator dan kompetitor dan segera
ditutup sebelum air surut agar pupuk tidak hanyut ke luar tambak.
Penambahan air secara bertahap, hari ke-1 setinggi 10 cm, hari ke-2 setingggi 20 cm, hari ketiga 30 - 40 cm, dan
dibiarkan selama 1 minggu sampai kelekap tumbuh subur.
Selanjutnya air ditambah lagi hingga 40 - 50 cm dan tambak siap ditebari benih ikan bandeng.
3. Penebaran Benih Ikan
Benih yang ditebar ukuran "lincip" ( 5 cm)
Padat penebaran yang digunakan sekitar 10.000 ekor/ha.
Penebaran benih dilakukan pada saat suhu rendah
Untuk menjaga benih agar tidak stress, perlu perlakuan aklimatisasi terhadap kondisi suhu dan salinitas air
tambak. Tahapan pelaksanaannya :
(i) memasukkan kantong berisi benih ikan ke dalam tambak dan biarkan selama 10 - 15 menit, (ii)
membuka kantong plastik, dan memasukkan air tambak ke dalamnya sedikit-demi sedikit sampai suhu
dan salinitas air dalam kantong plastik sama dengan air tambak, (iii) melepaskan benih perlahan-lahan
ke tambak dengan cara mengangkat kantong bagian bawah.
4. Pemeliharaan
i. Pengelolaan air
Kedalaman air dipertahankan sekitar 30-40 cm di atas pelataran.
Penggantian air dilakukan secara gravitasi (pasang surut air laut).
ii. Pemupukan susulan
Pemupukan susulan mulai dilakukan pada saat persediaan dan pertumbuhan kelekap berkurang
(sekitar 1 bulan setelah penebaran).
Pemupukan dilakukan dengan Urea sekitar 15 kg/ha dan SP-36 10 kg/ha (sekitar 10% dari pupuk
awal). Mula-mula air tambak disurutkan hingga sekitar 5 cm di pelataran, selanjutnya pupuk
ditebarkan merata di pelataran tambak. Dua hari kemudian air tambak ditambah hingga kedalaman
sekitar 40 - 50 cm.
iii. Pakan tambahan
Pakan tambahan diberikan pada saat menjelang panen untuk memacu laju pertumbuhan berat.
iv. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian dini dilakukan bersamaan dengan persiapan tambak (pengeringan, pengapuran, dan
pemberian saponin). Selain itu pemasangan saringan pada pintu air tambak sangat berguna
mencegah masuknya predator atau penyaing ikan bandeng ke dalam tambak.
Pengendalian selanjutannya dilakukan dengan monitoring terhadap gangguan ular, kepiting, dan
jenis ikan lain sebagai penyaing.
5. Panen
Lama pemeliharaan sekitar 4-5 bulan.
Tujuan pemeliharaan untuk mendapatkan ikan bandeng konsumsi (4-5 ekor/kg).
Panen dilakukan dengan menggunakan alat jaring/waring.
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)